Sunday, December 15, 2013

Cara Mudah Membuat Telur Pindang

 
Foto: Heinz ABC

Telur pindang sangat lezat dinikmati bersama nasi hangat atau pendamping nasi gudeg. Rasanya yang gurih dan manis didapatkan dari rebusan rempah dan bumbu yang juga berperan membuat kulit telur berwarna kecokelatan.

Tentunya tidak sulit untuk membuat hidangan ini, cukup siapkan telur dan beberapa bumbu sederhana. Untuk membuat telur pindang, Anda cukup lakukan empat langkah mudah ini.

Bahan Pembuat

Foto: Heinz ABC
  • Untuk membuat telur pindang, Anda membutuhkan telur, garam, kulit bawang merah, daun jambu biji, daun salam, air, dan kecap manis. Bahan ini menambahkan rasa gurih dan warna kecokelatan.
Rebus Telur

Foto: Heinz ABC
  • Rebus telur dengan kulit bawang dan daun jambu selama tiga jam dengan api sedang. Sesekali aduk telur supaya rebusan bumbu tercampur rata.
Bentuk Pola

Foto: Heinz ABC
  • Untuk membuat pola retakan, Anda bisa meretakkan telur dengan punggung sendok lalu rebus kembali. Pola retakan akan terlihat berwarna kecokelatan.
Pindang Kecap

Foto: Heinz
  • Untuk membuat pindang kecap, tumis bumbu halus yang terbuat dari bawang putih dan bawang merah hingga halus dan tambahkan air dan kecap. Kupas telur dan rebus dalam air kecap tersebut selama 30 menit. (Source)

Saturday, November 30, 2013

Ondeh Mandeh Ampiang Dadiah

Image Source: Here

Bagi urang awak, nama ampiang dadiah mungkin sudah tidak asing lagi. Karena satu dari sekian banyak kuliner tradisional yang merupakan khas Ranah Minang ini, memang hanya bisa ditemui di beberapa daerah di Sumatera Barat. Salah satunya di Kota Padang Panjang. Ampiang dadiah, bukan berarti hampir didih atau nyaris mendidih. Melainkan kolaborasi dua jenis makanan yang terdiri dari ampiang (pulut) dan dadiah (hasil fermentasi susu kerbau murni).
Adalah Bofet dan Rumah Ma­kan Gumarang Padang Panjang, satu-satunya tempat kuliner yang menye­diakan berbagai jenis maka­nan tradisional Ranah Minang, salah satunya ampiang dadiah. Sudirman St Marlaut, pengelola Bofet RM Gumarang kepada Ha­luan menga­takan, meski meru­pakan produk kuliner khas urang awak, namun pesona ampiang dadiah sudah memancar ke luar Pulau Sumatera, bahkan hingga ke mancanegara.

Image Source: Here
Merunut kepada sejarah, Sudir­man menyebutkan, jika jenis ma­kanan dadiah yang merupakan hasil fermentasi susu kerbau murni itu, sudah ada sejak zaman dahu­lunya. Dadiah yang melewati proses fer­mentasi sebelum akhirnya disajikan dalam bentuk yogurt itu, dulunya bahkan menjadi makanan favorit sebagai pengganti lauk atau sambal untuk makanan utama (nasi). Bahkan oleh sebagian orang tua-tua di zaman sisuak, dadiah juga kerap dijadikan sebagai parabuang alias makanan ringan pengganti agar-agar, yang disantap bersama potongan cabe muda. Hmmmm, maknyos.

“Proses pengolahan dadiah yang berawal dari tahapan pembekuan susu cair yang difermentasikan ke dalam potongan batuang (bambu) itu, akhirnya mulai dipopulerkan sebagai salah satu makanan tra­disio­nal, yakni setelah ditemu­kannya adukan resep yang mema­dukan antara ampiang, dadiah, kelapa dan tangguli (gula enau yang dicairkan),” kata Sudirman.

Proses fermentasi dadiah, baru mencapai hasil maksimal setelah diinapkan selama 2 malam di dalam tabung bambu dengan ukuran penyajian yang bervariasi, mulai dari 15 hingga 20 centi meter. Sedangkan untuk ketahanan jelang memasuki masa kedaluwarsa, dadiah masih layak dan sehat untuk dikonsumsi sampai rentang waktu satu minggu sejak mulai difer­mentasikan. “Bentuk dan rasanya akan berubah setelah satu minggu,” kata Sudirman.

Berdasarkan keyakinan turun temurun, ampiang dadiah dipercaya berkhasiat untuk menurunkan kadar kolesterol, memacu kese­hatan dan cara kerja jantung, serta makanan yang baik untuk menam­bah stamina dan daya tahan tubuh. Bahkan sebagian informasi yang berkembang, ampiang dadiah juga diyakini berkhasiat untuk menam­bah vitalitas dan gairah seksual kaum pria. Namun demikian, dadiah yang jika dikonsumsi secara berlebihan dari takaran standar antara 1 sampai 2 kali dalam 5 hari, juga dikhawatirkan akan mengakibatkan si konsumen rentan terserang hypertensi dan tekanan darah tinggi.

Saat ini Bofet Gumarang yang menerima titipan dadiah dari salah seorang produsen susu kerbau di daerah Gaduik Bukittinggi, mampu menghabiskan antara 10 hingga 15 tabung dadiah setiap harinya. Tidak hanya untuk konsumsi masyarakat lokal Padang Panjang dan Sumbar pada umumnya, tak jarang juga ampiang dadiah menjadi buah tangan untuk dibawa ke luar Pulau Sumatera, bahkan hingga ke negara tetangga Malaysia. Sederhana dalam penyajian, namun kaya akan gizi dan keung­gulan cita rasa, ampiang dadiahlah namanya. Tak salah pula kiranya, jika bukti nyata dari keberagaman kuliner tradisional Ranah Minang ini, seperti telah menempatkan diri sebagai satu dari sekian ikon kuliner khas urang awak, yang telah pula menjadi selera mancanegara. Pesona ampiang dadiah, pesona kuliner Ranah Minang. (haluan)

Saturday, November 23, 2013

Resep Hari Ini : Sate Padang


Source: Here

Bahan-Bahan Yang Dibutuhkan
  • Bahan daging:
  • 500 gram beef rump , bagian pantat sapi
  • 500 gram bawang putih halus
  • 1 ruas ibu jari kunyit, haluskan
  • 5 centi meter jahe, haluskan
  • 1 lembar daun kunyit
  • 1 lembar daun jeruk
  • 1/2 batang serai, memarkan
  • Garam secukupnya
  • 1 sendok makan bumbu kari padang bubuk
  • 1 cangkir kelapa parut
  • 10 gram kemiri
  • Air secukupnya
  • Tusuk sate
  • Bahan bumbu sate:
  • 1/2 buah kelapa, ambil santannya
  • 20 gram daun sledri
  • satu batang perai, iris
  • 10 gram bawang merah halus
  • 5 gram cabai merah keriting halus
  • 5 gram kunyit halus
  • 20 gram tepung beras
  • 2 sendok makan bumbu kari padang bubuk
  • 10 gram kacang tanah, hancurkan
  • Garam secukupnya
  • Bumbu kari padang bubuk:
  • 5 gram bunga lawang
  • 2 gram pala
  • 3 batang kayu manis
  • 1 cangkir biji ketumbar
  • 4 buah long pepper
  • 1 sendok makan biji adas
  • 1 sendok makan kapulaga jawa
  • 1 sendok makan jinten
  • Halukan semua bahan dan simpan dalam toples kedap udara.
Cara Membuat Sate
  • Letakkan daging dalam wajan dan tuang air sampai menutupi daging, lalu rebus selama 2 jam sampai setengah matang.
  • Angkat dan tiriskan. Simpan kaldunya untuk bahan kuah. Setelah daging tiris, potong kotak-kotak seukuran 3 centi meter, sisihkan.
  • Untuk membuat santan, peras kelapa parut tanpa menggunakan air, sisihkan. Peras kembali untuk kedua kalinya dengan air, sisihkan. Sisihkan perasan yang pertama dan kedua pada wadah yang berbeda.
  • Blender sisa kelapa parut dari proses pembuatan santan bersamaan dengan kemiri, sisihkan.
  • Blender halus kunyit, bawang putih dan jahe secara terpisah, sisihkan.
  • Panaskan minyak dalam wajan, tumis semua bumbu halus dan tambahkan bumbu kari padang bubuk, daun kunyit dan daun jeruk, tumis sampai harum.
  • Kemudian tambahkan kaldu sapi dan perasan santan yang kedua, masak perlahan sampai kuahnya menyusut dan mengental.
  • Lalu tambahkan perasan santan yang pertama, masak perlahan kembali hingga kuah menyusut.
  • Masukkan daging yang sudah dipotong kotak-kotak, masak hingga bumbu mulai mengering dan meresap menutupi semua bagian daging secara merata.
  • Tusuk daging pada tusukan sate dan panggang hingga matang kecoklatan
 Cara Membuat Bumbu Sate
  • Blender halus bawang merah, kunyit dan cabai merah keriting secara terpisah.
  • Panaskan minyak dalam wajan dan tumis semua bumbu halus tadi hingga harum, kemudian masukkan santan dan tepung beras, namun sebelumnya campur sedikit santan dengan tepung beras untuk mengencerkan tepung.
  •  Masak hingga mengental. Masukkan irisan perai, daun seledri, kacang tanah yang dihancurkan, garam secukupnya, dan bumbu kari padang bubuk. Masak kembali selama 5 menit.
  • Sajikan sate di atas piring saji dan bumbu sate di mangkuk kecil.
  • Sajikan selagi hangat.
 Catatan Penyajian: Sajian Untuk 4 Porsi